oleh

Seni Kota Atau Politik Ruang Publik (1)

>

Patung pejuang di ujung Jl. Slamet Riyadi karyA Ali Walangadi (foto: Goenawan Monoharto).

Oleh: Goenawan Monoharto*)

Pagi-pagi benar, udara sejuk di anjungan Losari. Masih sepi. Angin laut hampir tidak bertiup namun terasa sangat segar.

Dari anjungan bagian Selatan hanya dua orang perempuan setengah baya, petugas kebersihan menyapu halamannya.

Tiga atau empat orang gadis sedikit “genit” ber-tiktok di depan patung torso (patung “dada”) warna putih lecet. beberapa pahlawan di Sulawesi Selatan.

Hampir tiga puluh patung torso berjejer, tak heran bila pendapat bijak mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai. Yakni mengenang para pahlawan dengan membuatkan torso. Apakah wajahnya secara anatomi katakanlah mirip atau tidak, itu bukan soal.

Menurut cerita Anjungan Losari digagas dan dikerjakan pada masa Walikota Makassar ketika masih Walikota Ilham Arief Sirajuddin, kemudian dilanjutkan oleh Walikota Makassar Danny Pomanto terpilih yang seorang arsitek.

Melihat satu persatu patung pahlawan tersebut, tandanya hanya nama pahlawan misalnya Andi Pangerang Petta Rani dengan tahun kelahiran dan wafatnya. Data bersambung tidak ada lagi, tahun berapa pembuatannya dan siapa yang membuat tidak diketahui.

Sehingga banyak masyarakat bertanya-tanya apakah pembuatan torso itu cetakan atau bukan? Apakah dibuat oleh seniman patung yang di ada Makassar atau hanya tukang. Tak jelas, tidak terdeteksi datanya.

Di antara patung torso di anjugan Loasari ada patung tiga sosok tokoh dunia, masing-masing Mathama Gandhi, Syeh Jusuf dan Nelson Mandela.

Patung ini diketahui pembuatnya Amirullah Syam dan timnya pada masa Walikota Danny Pomanto (Ahmad Fausi dan Achmad Anzul). Pembuatannya tahun 2016, setelah kegiatan seni F8 di losari.

Kemudian ada patung Gadis Toraja menari Panggellu, Patung Becak, Patung seorang wanita menenun. Sekitar itu juga ada prasasti Arsitektur, pada bagian depannya sejumlah nama tertulis.

Beberapa bongkahan seperti tembok runtuh ada di sekitarnya. Apakah ini karya arsitek yang sengaja dipasang? Entah. Hanya Walikota Danny yang tahu.

Dalam kota Makassar, beberapa patung yang “pantas” disebut patung entah tahun berapa, patung torso Sultan Hasanuddin di depan Markas KODIM 1408/BS KotaMakassar di jalan Lanto Dg. Pasewang masih ada dan sangat terawat.

Tahun berapa pembuatannya oleh siapa pembuatnya, dipastikan tercatat data pada buku sejarah Markas KODIM 1408/BS. kotaMakassar. Jelas patung sudah itu ketika penulis masih anak-anak.

Kemudian yang cukup tua patung itu, Patung Sultan Hasanuddin naik kuda menunjuk ke laut di depan Benteng Panjua (Fort Rotterdam). Patung ini dibuat pada masa Walikota H. M. Dg. Patompo (tahun 1970-an) oleh seniman yang pernah mengecap pendidikan di Itali, M. N. Syam.

Sebuah patung semasanya ada di gerbang lapangan Karebosi, beberapa laki-laki memikul balok, namun patung itu sudah tak ada, menurut Jendri Pasassang seorang seniman pematung, kemungkinan patung tersebut sudah dihancurkan.

“Mungkin senasib dengan patung Ramang karya S. A. Yatimayu (Sakka Ali) juga sudah tak ada dan dihancurkan ketika Karebosi dijadikan lahan bisnis. Patung tersebut dibuat pada masa Walikota Malik B. Masri.

“Kalau melihat perkembangan patung di masa H. M. Dg, Patompo adalah seorang visioner dalam memperhatikan seni Kota di Makassar,” kata Jendri Pasassang.

Setelah era itu, lokasi patung keberadaannya menggusur atau patung dihancurkan oleh karena pengembangan kota disebabkan lokasi patung terlalu dipaksakan atau karena kepentingan pendapatan seperti patung yang ada di gerbang Karebosi jaman dulu.

Satu hal yang juga perlu disoroti pengerjaan patung kelak, bisa jadi jebakan bagi seniman patung, terkait dengan hukum.

”Sepanjang saya tahu seniman patung lemah dimanajemen dan pengetahuan tentang hukum, sehingga terkesan hanya menjadi tukang saja bagi kontraktor. Ini fakta seperti yang saya alami”.

“Nilainya tidak sebanding yang diterima oleh kontraktor, pengerjaan patung proyek pemerintah “ngeri ngeri sedap”, sama peristiwanya yang menjerat seorang kawan yang harus menghabiskan beberapa tahun di Lembaga Pemasyarakatan”, ungkap Jendri (Bersambung/LKid).

*) penulis senirupa 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lintas Terkini