oleh

Seni Kota Atau Politik Ruang Publik (2)

>

Patung Sultan hasanuddin di atas kuda di depan benteng fort Roterdam karya M.N. Syam (foto Goenawan Monoharto)

Oleh: Goenawan Monoharto*)

Ada Patung Pajoga Dg. Ngalle di taman segitiga Jl. Kakatua dengan Ujung Jalan Ratulangi Makassar, Patung yang sama masanya dibuat ada juga di jalan G. Bawakaraeng (Pompa Bensin) dan Patung Ayam di Daya.

Konon, patung tersebut mendatangkan konflik bahwa patung tersebut dibuat dengan menggusur para pedagang di Daya. Patung-Patung tersebut cukup baik keadaannya dibuat oleh Jakob Pagorai, seorang seniman patung di Makassar.

Hampir dilupakan, sebab patung Pejuang yang ukurannya 1 X 1 terletak di sebuah taman di pengkolan jl. Slamet Riyadi Makassar. Patung dibuat oleh Seniman Ali Walangadi. Hanya sayang nasibnya kurang menguntungkan.

Ketika pembuatan patung tersebut, perancang dan pemilik proyek tidak memperhitungkan kemajuan kota Makassar baik pertumbuhan pohon maupun gedung-gedung di sekitarnya. Sehingga patung tersebut kelihatan “imut” sangat kecil sekarang. Apalagi tidak terpelihara, ditumbuhi rumput. Nasibmu. Kodong.

Sekitar ruang publik tersebut, ada patung Macan di lapangan segitiga, dan di depannya jl. Hasanuddin ada patung torso Sultan Hasanuddin ukuran tidak besar, sehingga diabaikan untuk dipandang,

Patung Sultan Hasanuddin berkuda  (foto: Goenawan Monoharto).

Bahkan patung tersebut yang dibuat di Yogyakarta oleh Pematung/perupa Dicky Tjandra, mantan dosen UNM. Lulusan S 1 sampai S 3 di ISI Yogyakarta, dikritisi bahwa patung tersebut tidak cocok penempatannya, sebab bisa mendatangkan kecelakaan lalulintas. Memang benar sudah ada korban.

Selain patung torso Sultan Hasanuddin dibuat Pematung Dicky Tjandra, sebuah patung cukup menarik perhatian patung “Selamat Datang” di ujung jl. Riburane, Patung ini disponsori oleh Bank Mandiri. “Patung ini juga dibuat fisiknya di Yogyakarta,” kata Anzul, pelukis “kampung garam”.¬

Tak pelak ketika melihat patung Gajah eks Taman Safari di ujung jl. Penghibur, sekarang jalan masuk ke jl. Tanjung Bunga Makassar, tersisa dari kumpulannya. Patung itu dibuatnya, pada masa 1980-an karya Amirullah Syam.

Apakah masih cocok tempatnya dan dipertahankan tempatnya sekarang, atau dicarikan tempat yang pas misalnya lapangan segitiga bertetangga dengan patung Macan?

Siapakah penguasa patung-patung sekarang di Pemda kota Makassar, apakah Dinas Pertamanan kota Makassar atau Dinas Kebudayaan kota Makassar?

Sebaiknya instansi yang bertanggungjawab tentang taman dan isinya dipikirkan kembali penempatan patung-patung tersebut, sebab ada yang mempertanyakan seperti apa patung-patung di kota Makassar sebagai SENI KOTA, murni gagasannya pembuatan patung-patung tersebut, seperti di kota-kota besar lainnya. atau hanya sebatas politik ruang publik pada setiapp walikota yang membangun kota Makassar.

Onggokan seperti runtuhan tembok (foto: Goenawan Monoharto).

Menjelang 17 Agustus 2021, hari kemerdekaan Bangsa Indonesia ke 76. Patung-patung yang berkaitan dengan kebangsaan – hampir semuanya patung-patung di Makassar berkaitan dengan Kebangsaan, sangat perlu dicat ulang atau direstorasi kembali.

“Semuanya patung yang ada tidak terurus dimakan usia. Tentu restorasi tersebut memerlukan biaya bisar. Tetapi apa boleh buat demikian adanya, memelihara SENI KOTA memang mahal. Jangan hanya bisa dibuat, tetapi mengabaikan pemeliharaannya. Miris jadinya”.

Di masa pendemi ini, Walikota Danny Pomanto dapat memikirkan membuat patung yang bagus, untuk menjadi penanda bahwa Makassar pernah terkena Pandemi yang memakan cukup banyak korban dan dapat dibendung dengan program Danny Pomanto yakni recovery COVID- 19. Mungkin masukan ini penting (Selesai/LKid).

Borong Raya Makassar

*) penulis senirupa 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lintas Terkini