oleh

Jalan Panjang Menuju TV Digital Indonesia

>

Penulis : Nur Aliem Halvaima (Nur Terbit), Wartawan LintasKompas.id

Ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), umur saya baru 12 tahun di era 1970-an. Itulah pertama kali saya menonton siaran televisi di kampung saya di Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Waktu itu, baru ada satu siaran televisi. Yaitu Televisi Republik Indonesia (TVRI). Masih dalam siaran hitam putih dan ada iklan “Siaran Niaga”-nya. Warga masyarakat yang memiliki pesawat televisi pun, masih langka.

Saking langkanya, jumlah pesawat televisi masih bisa dihitung dengan jari. Baru ada satu dua rumah yang memutar siaran televisi. Ya, televisi ketika itu, boleh dibilang barang langka.  Penerangan listrik juga belum ada. Hanya lampu petromaks di rumah penduduk.

Di wilayah kecamatan tempat tinggal kami saja, hanya ada satu orang yang punya televisi. Dia perwira Angkatan Udara dari Lanud Hasanuddin. Orang cukup berada, punya tanah berhektar-hektar. Untuk memutar televisi, menggunakan mesin dissel, sekaligus penerangan rumah.

Saya termasuk beruntung bertetangga dengan keluarga perwira tersebut. Setiap hari bermain dengan anak-anaknya yang sebaya dengan saya. Itu sebabnya, saya bisa numpang nonton televisi jika malam hari. Tentu saja, jika esok harinya tidak ada PR dari sekolah, atau kebetulan malam Minggu.

Selain di rumah perwira Angkatan Udara yang cukup berada itu, kami dan anak-anak kampung cukup tertolong karena tinggal tak jauh dari komplek militer. Tepatnya komplek TNI Angkatan Udara Lanud Hasanuddin. Kami tinggal di pemukiman warga. Jaraknya sekitar 3 kilo meter di luar komplek.

Di satu bangunan pos penjagaan menghadap lapangan luas, dipasang kotak televisi. Tempat warga menonton secara gratis. Penontonnya tertib, sopan-sopan, sebab tak jauh dari situ terdapat rumah dinas para perwira. Termasuk rumah yang ditempati penguasa komplek: Komandan Pangkalan Angkatan Udara Lanud Hasanuddin.

Hampir setiap malam, kami anak-anak kampung berjalan kaki sejauh 6  kilometer pergi/pulang — “konvoi” dari rumah ke komplek militer ini menonton acara siaran televisi. Berangkat sejak sore biar lebih lama nonton televisi.

Ketika siaran televisi pun berakhir, sudah larut malam. Bahkan sudah dinihari waktu Indonesia bagian Timur. Kamipun kembali berjalan kaki bergerobol bak karnaval yang baru pulang dari lomba Agustusan.

Salah satu program televisi swasta yang cukup disenangi penonton Indonesia (foto repro Nur Aliem Halvaima)

Sejarah Siaran Televisi

Mengingat peristiwa di era 1970-an itu, saya sering tertawa sendiri. Betapa mahalnya ya tontonan televisi ketika itu. Siapa menyangka kalau John Logie Baird, penemu televisi asal Skotlandia itu, bisa juga dinikmati karyanya bagi anak kampung seperti saya dan teman-teman.

Hari ini 95 tahun yang lalu, tepatnya pada 26 Januari 1926, itulah cikal bakal televisi mulai diperkenalkan untuk kali pertama. Seperti juga ketika saya pertama kali nonton siaran TVRI Pusat, yang direlai oleh Stasiun TVRI Makassar, Sulawesi Selatan.

Kita semua harus berterima kasih kepada John Logie Baird, yang telah memberikan demonstrasi televisi pertamanya di sebuah laboratorium di London.

Semua usaha yang dilakukan Baird tak lepas dari penemuan sebelumnya yakni Cakram Nipkow yang mampu bergerak dan meneruskan cahaya. Baird mendasarkan televisinya pada karya Paul Nipkow, seorang ilmuwan Jerman yang mematenkan idenya untuk sistem televisi pada tahun 1884.

Demonstrasi dari Baird, merupakan langkah awal dari teknologi televisi modern yang kini banyak dilihat orang.

Pada 1928, Baird membuat siaran luar negeri pertama dari London ke New York melalui saluran telepon. Pada tahun yang sama dia menunjukkan televisi berwarna pertamanya. Kemudian, televisi berwarna mulai diproduksi massal pada 1929.

Pada 1932, Radio Corporation of America mendemonstrasikan sebuah televisi yang menggunakan tabung sinar katoda dan tabung kamere ikonoskop.

Kedua alat itu dikembangkan oleh fisikawan Rusia, Vladimir Zworykin dan mempu meningkatkan kualitas output gambar pada siaran televisi.

Di London, British Broadcasting Corporation (BBC) meresmikan siaran publik pada 1936. Dalam menyampaikan siaran, sistem televisi Baird bersaing dengan industri milik Marconi, yang juga dikenal karena mengembangkan radio.

Ketika itu, Televisi Marconi menghasilkan gambar 405 line, sedangkan Baird hanya 240 line. Oleh karena itulah, BBC mengadopsi sistem Marconi pada 1937.

Siaran televisi reguler dimulai di Amerika Serikat pada tahun 1939, dan siaran warna permanen dimulai pada tahun 1954.

Rencana program televisi digital (foto IG lucky_the_Jenggleng)

Siaran Analog ke Siaran Digital

Seperti diketahui pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), akan melakukan migrasi TV Digital tahap pertama pada tanggal 17 Agustus 2021.

Namun, Kemkominfo menunda rencana tersebut dan akan menjadwal ulang tahapan proses Analog Switch Off (ASO). Dengan adanya ASO, masyarakat harus menghentikan siaran analog dan beralih ke siaran digital.

Dalam acara Konferensi Pers Pelantikan Dirjen IKP pada Selasa (10/8/2021), Menkominfo Johny G Plate mengatakan tahapan proses ASO akan di mulai pada tahun 2022.

“Tadinya tahap I akan dilakukan pada 17 Agustus bulan ini. Namun demikian karena situasi pandemi ini, maka analog Switch Off itu akan dilakukan dalam 3 tahap, dari 5 tahap menjadi 3 tahap. Dimulai pada 31 April tahun 2022, akhir Agustus dan awal November 2022,” ucap Johnny.

Lalu apa bedanya antara siaran analog dengan siaran digital? Dikutip dari Instagram @siarandigitalindonesia, siaran digital merupakan penyiaran yang menggunakan frekuensi radio VHF / UHF seperti halnya penyiaran analog.

Namun, sinyalnya merupakan konversi data digital MPEG-2 yang dapat mengantarkan audio visual dengan lebih bersih dan jernih melalui sistem penerimaan yang kita kenal dengan nama Digital Video Broadcasting Terrestrial (DVB-T) yang kini sudah masuk generasi kedua atau DVB-T2.

Antara televisi digital dan analog (foto IG lucky_the_Jenggleng)

Televisi Digital itu bukan TV streaming, jadi tidak memerlukan biaya kuota internet. TV Digital juga tidak seperti TV satelit (parabola), siaran TV digital memakai teknologi antena penerima DVB-T2.

TV digital bukan TV kabel yang harus berlangganan, jadi tidak perlu membayar biaya bulanan.

Perbedaan menyolok lainnya adalah pada TV analog : semakin jauh dari stasiun pemancar maka sinyal akan melemah sehingga gambar dan suara menjadi buruk dan berbayang

TV analog juga tidak memiliki kemampuan multimedia lain. TV analog menggunakan sinyal analog sehingga membutuhkan satu pemancar untuk tiap satu kanal transmisi.

Sementara TV digital, gambar dan suara tetap bersih dan jernih. Memiliki kemampuan multifungsi dan multimedia seperti layanan interaktif dan informasi peringatan dini bencana

Selain itu, TV digital menggunakan sinyal digital dan teknologi multipleksing (MUX) lebih canggih sehingga dapat memancarkan 6-8 kanal sekaligus.

Perdebatan Panjang TV Analog – Digital

Persoalan migrasi TV analog ke digital di Indonesia, memang memiliki sejarah panjang. Menurut Direktur Jenderal Penyelenggara Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Ahmad M. Ramli, Indonesia termasuk negara yang pertama berinisiatif untuk beralih ke TV Digital di ASEAN.

“Tapi menjadi salah satu negara terakhir yang melakukan implementasi. Saat ini, di kawasan ASEAN, tinggal Indonesia, Timor Leste, dan Myanmar yang belum mengimplementasikan TV digital,” kata Ahmad Ramli.

Keuntungan migrasi ke TV digital (foto IG lucky_the_Jenggleng)

Insiatif untuk mematikan TV analog sudah dimulai sejak 2007. Uji coba migrasi dari TV analog ke TV digital di kawasan Jabodetabek lantas dilakukan pada 2008. Pada 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan Grand Launching uji coba siaran TV digital pada tanggal 20 Mei 2009 bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional.

Menkominfo Muhammad Nuh pun mengeluarkan Peta Jalan Infrastruktur TV Digital pada 2009 untuk migrasi dari sistem penyiaran televisi analog ke digital. Peta jalan ini dimulai sejak awal tahun 2009 sampai dengan akhir tahun 2018.

Lebih lanjut, pada 2010 Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring meresmikan uji coba lapangan penyiaran TV digital untuk wilayah Bandung dan sekitarnya, seperti dilansir dari laman Kominfo.

Pada 2012, Kominfo menetapkan penyiaran TV digital menggunakan standar baru DVB-T2 (generasi kedua). Aturan baru ini mengubah standar TV digital yang sebelumnya diatur pada 2007 menggunakan teknologi DVB-T (generasi pertama).

Meski sudah berapi-api menggelar peta jalan sejak 2008, namun praktik di lapangan tak semudah itu. Rencana pemerintah ini mendapat banyak jegalan. Pertama akibat ketiadaan payung hukum dan tentangan dari kalangan industri.

Kominfo menyampaikan lambannya migrasi TV analog ke digital akibat kurang dukungan untuk suntik mati TV analog di kalangan para pemegang kepentingan.

“Permasalahan yang sebenarnya adalah stakeholders tidak sama-sama mendukung,” kata Direktur Penyiaran, Ditjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika (PPI), Geryantika Kurnia.

Sebelumnya pada 2015, Menkominfo Rudiantara sempat menyampaikan rencana untuk mempercepat implementasi siaran TV digital agar bisa cepat-cepat dimanfaatkan untuk akses pita lebar nirkabel berbasis seluler 4G LTE.

Namun menurut Riant Nugroho, anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), seharusnya migrasi bisa dipercepat agar kelar dua tahun lebih cepat.

Namun, rencana itu berbuah gugatan Asosiasi Televisi Jaringan Indonesia (ATJI) pada Maret 2015. Mereka meminta PTUN menggugurkan aturan Permen Kominfo tahun 2011 soal TV Digital.

Begini pola migrasi dari televisi analog ke digital (foto IG lucky_the_Jenggleng)

Lalu adalah peluang program migrasi TV analog ke digital bagi industri penyiaran dan kreatif?

Aca Hasanuddin, sutradara dan penulis skenario mengakui sebetulnya perubahan itu tidak berpengaruh terhadap film dan sinetron, karena secara teknis produksi sama saja.

“Tapi kalau kita mau bilang berpengaruh ya berpengaruh, karena gambar akan lebih jelas dan bening hehe…,” kata alumni Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Makassar Sulsel ini melalui pesan whats app, saat penulis meminta komentarnya soal dampak TV digital terhadap industri penyiaran dan kreatif.

Pekerja film di sejumlah perusahaan industri perfilman seperti Rana Arta Mulia Film, Persari Film, Prima Film, Bintang Inova Citra Film, Sinemart, Rafi Film dan lain-lain ini, menolak berkomentar banyak.

“Maaf untuk menjawab butuh pemikiran dan juga analisa hehehe..Maaf, mau jumatan juga hehehe..,” kata Aca Hasanuddin, yang belakangan produk sinteronnya banyak ditayangkan di TV Indosiar dan menjadi tontonan remaja putri dan emak-emak itu.

Sutradara dan penulis skenario, Aca Hasanuddin sedang syuting sinetron di lapangan (foto : FB Aca Hasanuddin)

Kebijakan pemerintah untuk transisi ke sistem penyiaran televisi digital ini, bukannya tanpa alasan. Manfaat yang akan paling jelas dirasakan adalah jernihnya tayangan televisi. Hal yang juga diakui sutradara dan penulis skenario, Aca Hasanuddin di atas.

Dalam sistem penyiaran digital, tidak mungkin terdapat bintik-bintik semut pada layar TV penonton. Televisi bekerja dalam sistem positif atau negatif dan tidak berjalan seperti analog yang tergantung dengan jarak dari pusat pancaran sinyal.

Dengan adanya konsistensi ini, penyiaran digital akan berfungsi dengan lebih presisi. Entah tayangan tidak muncul sama sekali karena tidak mendapat sinyal, atau tayangan muncul dengan sangat jernih dan kualitas tinggi. Ini juga berpengaruh dengan audio yang akan berkualitas lebih baik.

Tentu saja, ini tergantung dengan material asli, tetapi kebanyakan saluran akan menayangkan kualitas terbaik. Siaran digital ini juga lebih tahan cuaca buruk. Jadi, pemirsa tidak perlu takut ketinggalan acara TV favorit akibat hujan deras atau angin kencang.

Sistem penyiaran digital ini juga memungkinkan stasiun TV untuk melakukan ‘multicast’, sehingga satu saluran dapat mengirimkan beberapa program sekaligus, memberikan pemirsa lebih banyak pilihan acara televisi.

Bahkan, televisi digital memungkinkan layanan multimedia yang interaktif seperti polling, subtitle yang lebih jelas, atau kemungkinan penggantian audio dalam bahasa lain, sehingga akan terdapat lebih banyak pilihan bagi penonton televisi.

MODI dan migrasi dari televisi analog ke digital (foto IG lucky_the_Jenggleng)

Selain itu, sebaran TV juga akan lebih merata, dengan wilayah di luar Jabodetabek dan Pulau Jawa dapat mengakses saluran-saluran televisi yang dulu terbatas, bahkan yang berada di pelosok. Seluruh Nusantara, dari Sabang sampai Merauke, akan bisa menonton dengan nyaman.

Program yang ditayangkan lebih banyak, tetapi bebas biaya iuran, langganan, atau pun pulsa, yang harus dibayar saat menggunakan TV berbayar dan internet. Ini bisa jadi meningkatkan kembali minat masyarakat Indonesia dalam menonton TV, terutama di era pandemi ini.

Kebijakan pengalihan ini akan meratakan playing field industri televisi, sehingga semua perusahaan televisi dapat menjangkau seluruh Indonesia secara adil. Dicuplik dari situs Kompas.TV, pengalihan ke TV digital ini akan mendorong penambahan 181 ribu usaha baru yang menyebabkan 232 ribu lapangan pekerjaan baru.

Usaha-usaha yang mungkin muncul ini misalnya rumah produksi, industri film dan hiburan, hingga penciptaan aplikasi audio, video, dan multimedia lainnya. Kemungkinan usaha-usaha baru ini dapat membangkitkan kembali ekonomi, terutama yang sedang terpuruk akibat COVID-19.

Perangkat antene tambahan untuk nonton TV via WiFi agar gambar lebih jernih dengan HD (foto : Nur Aliem Halvaima)

Secara nasional, pengalihan juga mempengaruhi peningkatan pajak dan PNBP hingga Rp 77 triliun, serta peningkatan kontribusi pada PDB nasional sampai dengan Rp 443.8 triliun.

Mengapa bisa terdapat peningkatan ekonomi yang drastis? Secara teknis, sistem analog yang digunakan dianggap ‘boros’ bagi negara karena penggunaan listrik yang besar untuk menjangkau wilayah luas.

Mengutip situs siarandigital.kominfo.go.id, proses peralihan ini juga menjadi wujud transformasi digital Indonesia. Ini dikarenakan dalam pengubahan ke TV digital, Kemenkominfo dapat menghemat frekuensi yang digunakan TV analog. Dalam penyiaran digital, jumlah bandwidth yang sama, jika dibandingkan dengan analog, bisa mengirimkan kualitas data yang lebih besar.

Lebih lanjut lagi, transisi ini akan mendukung penguatan industri TV digital, mengikuti perkembangan dunia secara global dengan perkembangan teknologinya yang sangat cepat. Dengan penghematan frekuensi yang dilakukan, terdapat kemungkinan untuk mengakses teknologi seperti 5G untuk internet yang lebih cepat.

Dinilai Memberatkan di Tengah Pandemi

Anggota Komisi I DPR Sukamta menilai, rencana pemerintah yang akan mengalihkan televisi analog ke digital berpotensi menambah beban masyarakat di tengah pandemi Covid-19.

Menurut dia, tidak semua masyarakat dapat menikmati siaran lantaran tak mampu membeli perangkat televisi digital.

“Tentunya ini berpotensi menambah beban masyarakat yang sudah sulit secara kesehatan, ekonomi dan sosial akibat harus tinggal di rumah saat PPKM, kemungkinan satu-satunya hiburan juga dimatikan oleh pemerintah,” kata Sukamta.

Wakil Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di DPR ini menambahkan, memang selain dengan mengganti perangkat televisi digital, bisa juga dengan menggunakan set top box pada televisi analog.

Pemerintah juga menjanjikan akan memberikan set top box secara gratis kepada masyarakat miskin. Namun, ia mempertanyakan terkait anggaran yang tersedia untuk mengakomodasi hal tersebut, apakah dapat menjangkau hingga masyarakat tak mampu.

Sukamta berpandangan, skema pemberian set top box tersebut belum jelas. Bahkan, lanjut dia, hingga kini belum ada konsultasi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dengan Komisi I DPR untuk program pengalihan televisi analog ke digital.

“Apa Kominfo mau menanggung sendiri risiko sosialnya?” ucapnya. Oleh karena itu, Sukamta berpandangan, saat ini lebih penting untuk memprioritaskan anggaran untuk penanganan pandemi Covid-19 dari pada membahas pengalihan televisi analog ke digital di masa pandemi.

Mengutip berita KOMPAS.com, melalui televisi yang ditemukan John Logie inilah, merubah gaya hidup dan model baru masyarakat dalam mendapatkan informasi melalui televisi. Teknologi media berkembang pesat, sepesat perkembangan informasi.

Ketika radio mulai berkembang, seseorang hanya bisa menerima informasi melalui suara saja. Kemudian, terlintas ide untuk menyiarkan informasi secara visual. Jawabannya kemudian ditemukan pada layar kaca televisi.

Tapi itupun belum cukup. Mata penonton ingin lebih asyik dalam menikmati siaran televisi. Dari siaran hitam putih ke warna, lalu meningkat lagi ke era dekoder untuk menonton televisi swasta, atau trend antene parabola dan fasilitas WiFi internet yang bisa terkoneksi ke siaran televisi.

Kini, pola tontonan siaran televisi sebentar lagi akan migrasi ke TV digital, meninggalkan TV analog yang proses migrasinya sudah melewati jalan panjang itu. Kapan itu terwujud? Kita tunggu 2022. Semoga (*)

Penulis : Nur Aliem Halvaima (Nur Terbit), Wartawan LintasKompas.id

Tulisan ini diikutkan Kompetisi Karya Tulis untuk Jurnalis dan Umum oleh Kementerian Kominfo RI.

Penulis : Nur Aliem Halvaima (Nur Terbit), Wartawan LintasKompas.id

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lintas Terkini