oleh

3 Terdakwa “Pembegal” Perusahaan PMA Minta Dibebaskan Dari Segala Tuntutan Hukum

>

Teks foto: Penasehat hukum, ketiga terdakwa dan tumpukan pledoi (foto LKid/BangAlim)

JAKARTA, LintasKompas.id — Tiga pengusaha lokal terdakwa perkara “pembegalan” Perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA), dalam pledoi (nota pembelaan) mereka, minta ke majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara agar dibebaskan dari segala tuntutan hukum.

Pledoi ketiga terdakwa yang selama ini tidak ditahan — disidang secara off line — masing-masing Ren Ling (RL), Phoa Hermanto Sundjojo (PHS) dan Sumuang Manulang (SM), dibacakan dalam sidang di PN Jakarta Utara, Kamis malam pukul 20.00 WIB, tanggal 28 Oktober 2021.

Selain pledoi dibacakan sendiri oleh terdakwa secara bergantian, Tim Penasehat Hukum (PH) terdakwa Farida Felix SH yang hari itu hanya datang sendirian tanpa anggota tim, juga ikut membaca pledoi yang cukup tebal itu. Hakim akhirnya meminta agar PH hanya membacakan inti dan kesimpulan dari isi pledoi.

Ada 3 kotak plastik berisi surat dan bukti dari ketiga terdakwa yang disusun oleh PH mereka, menumpuk di atas meja PH, Majelis Hakim yang diketuai Dodong Iman Rusnadi, SH, MH dan di meja Jaksa Penuntut Umum (JPU) Subhan, SH.

Pada bagian lain dari pledoi ketiga terdakwa maupun pledoi PH, juga mempertanyakan saksi Denni sebagai pelapor. Menurut mereka, Denni “bukanlah siapa-siapa” di perusahaan PT. Bintang Cinda Mineral Group (PT. BCMG) Tani Berkah sehingga tidak punya legalitas untuk melapor ke kepolisian.

Berita Sebelumnya : Ren Ling, Phoa Hermanto, Sumuang Manulang Dituntut 6 Tahun Penjara

Pada sidang sebelumnya, JPU menuntut 6 tahun penjara kepada 3 terdakwa dalam perkara “pembegalan” Perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) tersebut.

Ketiga terdakwa sebagai pengusaha lokal, menurut JPU, terbukti secara meyakinkan telah menggunakan keterangan palsu sebagaimana diatur dalam pasal 266 jo 55 (1) KUHP. “Akibatnya perusahaan PMA tersebut dirugikan Rp100 milyar,” kata JPU Subhan, SH.

Perusahaan PMA yang “dibegal” ini telah beberapa kali mengalami perubahan direksi melalui RUPS LB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa). Oktober 2009 adalah perubahan yang kelima.

Setelah saksi Denni melaporkan kasus tersebut ke pihak kepolisian, ketiga terdakwa lalu membatalkan 3 akta dikarenakan terjadi prosedur yang tidak terpenuhi sesuai UU No. 4 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Perusahaan PMA “Dibegal”

Kasus ini bermula ketika Ren Ling (RL) bersama Phoa Hermanto Sundjojo (PHS) dan Sumuang Manulang (SM) melakukan pemalsuan dengan memasukkan keterangan palsu ke dalam suatu akta otentik perusahaan.

Caranya, mereka bertiga mendirikan perusahaan PT. Bintang Cinda Mineral Grup (PT. BCMG) Tani Berkah pada 2009 melalui notaris dan didaftarkan di Kementerian Hukum dan HAM. Perusahaan ini bergerak di bidang pertambangan galena.

“Tapi faktanya para terdakwa tidak pernah diberi kuasa oleh dewan direksi untuk melakukan perubahan susunan direksi. Ada yang bahkan tidak pernah hadir menghadap notaris maupun RUPS LB. Akibat perbuatan ketiga terdakwa, telah merugikan orang lain, dan membahayakan perekonomian,” kata JPU.

Berita Terkait : Saksi Terpapar Covid, Sidang Pemalsuan Akta Perusahaan PMA Ditunda

Sebelumnya, ketiganya didakwa melakukan 2 tindak pidana. Yakni memberikan keterangan palsu (pasal 266 jo 55 (1) KUHP) dan membuat surat palsu (pasal 263 ayat (1) jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP).

“Namun yang terbukti hanya dakwaan kesatu, yakni memberikan keterangan palsu yang diancam pasal pasal 266 jo 55 (1) KUHP,” kata Jaksa Subhan SH.

Sidang dilanjutkan Kamis depan 4 November 2021, untuk memberi kesempatan kepada JPU memberi tanggapan (LKid)

Laporan : Bang Alim, Editor : NAH

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lintas Terkini