oleh

Museum Wayang Dirindukan Masyarakat, Akhir Pekan Dikunjungi 500 Wisatawan

>

foto: Museum Wayang di Kota Tua Jakarta (Sup)

Jakarta, Lintas Kompas.id –
Museum Wayang di Jl Pintu Besar Utara no.27 -29, Taman Fatahillah, Kota Tua Jakarta selama pandemi covid 19 ini tampaknya dirindukan masyarakat penggemarnya.

Terbukti ketika dibuka kembali sejak Kamis 21 Oktober 2021 tiap akhir pekan pengunjungnya 100 orang lebih bahkan bila hari Minggu (Ahad) mencapai 300 – 500 orang.

Kepala Satuan Pelayanan (Kasatpel) Museum Wayang Sumardi S.Sos di kantornya Sabtu (4/12/2021) mengakui hal itu.

“Tercatat Sabtu (20/11) pengunjungnya 287 orang termasuk 8 orang wisatawan mancanegara,” katanya.

Minggu (21/11) melonjak menjadi 439 orang termasuk 12 wisman. Terbanyak dari Jepang 5 orang, lainnya dari Amerika, China, Perancis dan Inggris dengan masing masing 2 orang, kecuali Inggris seorang.

Akhir pekan berikutnya Sabtu (27/11) meningkat lagi menjadi 379 orang, termasuk 10 wisman, bahkan Minggu (28/11) pengunjungnya 520 orang termasuk 26 wisatawan mancanegara. Kebanyakan para wisman itu dari Jepang, Korea, China, Pakistan dan AS.

“Museum buka mulai jam 09.00 sampai 15.00. Jumlah pengunjung dibatasi maksimal 75% dari kapasitas,” kata Sumardi.

Apa yang menarik di Museum Wayang?

Sumardi menjawab, koleksinya ribuan wayang dari berbagai daerah se Nusantara bahkan se dunia, baik wayang kulit maupun wayang golek / boneka berikut gamelan dan peralatan pergelaran serta topeng dari berbagai daerah.

“Jumlah koleksinya ada 6863. Kami akui untuk Wayang Sulawesi maupun Wayang Papua kami tidak punya koleksinya sebab belum ada kesenian wayang di sana.

Wayang

Beda dengan Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Bali maupun Lombok serta Sumatera Selatan dengan wayang kulit Palembang,” kata Sumardi.

“Tetapi bila bicara soal pergelaran wayang sampai ke ujung unjung pulau se Indonesiapun ada,” tandasnya.

Mengenai masterpiece atau koleksi unggulan dan tergolong istimewa, Sumardi menyebut di antaranya Wayang Intan karya Ki Guno Kertiwondo atas prakarsa Babah Liem tahun 1870-an, yaitu wayang kulit berhiaskan manik manik intan.

Ada wayang golek setinggi hampir 3 meter tokoh Gatotkaca dan Pergiwa yang dipajang di ruang depan, wayang krucil, wayang klithik terbuat dari kayu, dan wayang beber berbentuk lembaran kertas atau kain dilukisi ujud wayang dengan cerita panji.

Wayang Boneka Si Unyil kreasi Drs Sujadi alias Pak Raden yang digemari anak anak saat ditayangkan di TVRI pada tahun 1980-1990-an juga menjadi koleksi bersejarah.

Sedangkan jenis wayang kulit juga cukup banyak ragamnya seperti wayang kulit Palembang, Betawi, Banjarmasin, Bali, Banyumas, Solo, Yogya dan Madura.

Ada lagi Wayang Si Kancil untuk anak anak, Wayang Sadat untuk berdakwah agama Islam, Wayang Wahyu untuk penyebaran agama Kristen dan Wayang Revolusi dengan tokoh tokoh pada zaman perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan RI.

Wayang Revolusi itu kata Sumardi merupakan titipan jangka panjang tak terbatas dari Wereld Museum Rotterdam, Negeri Belanda.

Uning-uningan dan Gondang seni budaya Batak juga ada koleksinya di museum ini.

Bagaimana pada hari biasa?
Sumardi mengatakan tidak seramai waktu akhir pekan.

Ruslan tenaga PJLP di Museum Wayang sejak 20 tahun lalu juga mengakui hal itu.

“Ya memang tidak seperti hari Sabtu dan Minggu. Hari biasa paling sekitar 50 orang pengunjungnya,” kata Ruslan usai tutup museum Sabtu (4/12).

Pengamat budaya dan pariwisata H Abu Galih sebagai pecinta museum Minggu (5/12) menyatakan rindu akan pergelaran wayang di museum tersebut tiap Ahad siang. Sebab sejak pandemi Covid 19 pergelaran di auditorium museum tersebut ditiadakan demi menjaga kesehatan.

Namun diakui, duduk di taman kecil bekas gereja selama 300 tahun itu terasa nyaman. Sambil merenung perjalanan sejarah bangsa Indonesia di khususnya di Jakarta di awal kolonialisme Belanda sampai sekarang.

Di tembok selatan terlihat beberapa prasasti, di antaranya bercerita tentang bangunan cagar budaya Toko Merah di Jl Kalibesar Barat, Roa Malaka, Jakarta Barat yang pernah menjadi istana gubernur jendral Belanda abad 18 maupun asrama Akademi Maritim di zaman itu.

Menurut catatan, JP Coen pimpinan VOC yang mengubah nama Kota Jayakarta menjadi Batavia tahun 1620, dimakamkan di tempat itu. Prasastinya terbaca di tembok bata klinker warna terakota sebelah utara taman itu, tetapi dalam bahasa Belanda.

Museum Wayang menjadi menarik bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara setelah Wayang Indonesia diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada 7 November 2003.

Tahun 2003 itu juga museum dua lantai seluas 900 m2 tersebut mendapat hibah gedung di sebelah utaranya dari H Probosutedjo dengan disaksikan mantan gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

Jadilah museum itu bertambah luas ruang dan lantainya menjadi 1.500 m2 setelah selesai direnovasi Pemprov DKI Jakarta tahun 2007.

Ketika koleksi dan pengunjung bertambah banyak maka semuanya dapat diakomodasikan dengan baik.

“Karena itu patut nama H Probosutedjo diabadikan untuk nama auditorium yang berada di gedung tambahan museum tersebut,” pungkasnya.

Museum Wayang diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Letjen TNI (Marinir) Ali Sadikin pada 13 Agustus 1975. (Sup/LKid).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lintas Terkini