oleh

Wayang Kulit Lebih Muda Dibanding Wayang Beber, Koleksinya 4800 Lebih

>

Berbagai jenis wayang. Searah jarum jam: wayang kulit Kamboja, wayang kulit Jawa, wayang golek Sunda (foto : Sup/LKid)

JAKARTA, LintasKompas.id  Kesenian wayang kulit di Nusantara (Indonesia) khususnya di Pulau Jawa lahir pada zaman Walisanga pada abad 16. Jadi lebih muda dibandingkan wayang beber yang lahir pada zaman Majapahit tahun 1400-an atau awal abad 15.

Namun koleksi wayang kulit Museum Wayang di Kota Tua Jakarta mencapai 4846 (khusus wayang kulit), yang berarti paling banyak dibanding koleksi wayang jenis yang lain, termasuk wayang golek yang berjumlah ratusan, wayang klithik beberapa dan wayang beber.

Kepala Satuan Pelayanan Museum Wayang Jakarta; Sumardi S.Sos mengungkapkan itu di kantornya atas pertanyaan wartawan Rabu (23/2/2022).

“Jumlah koleksi yang dimiliki Museum Wayang ini seluruhnya tercatat ada 6.863, tetapi itu bukan wayang saja,” kata Sumardi.

Selain koleksi wayang dari berbagai daerah dan mancanegara antara lain Kamboja, Thailand dan Malaysia, juga ada koleksi perlengkapan pergelaran seperti gamelan, lampu minyak, layar dan lainnya serta topeng.

Diakui Sumardi yang juga menjabat Ketua II Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) DKI Jakarta, cerita wayang khususnya wayang kulit memang berpakem pada kitab Mahabarata dan Ramayana dari agama Hindu.

Namun cerita wayang kulit kreasi Sunan Kalijaga pada zaman Walisanga telah disesuaikan dengan adat ketimuran Nusantara dan digunakan untuk media dakwah agama Islam.

Adanya tokoh punakawan Semar, Gareng dan Petruk juga kreasi Sunan Kalijaga.

Sementara wayang beber kata Sumardi mengambil cerita Panji zaman kerajaan Jenggala (Singasari) dan Daha (Kediri) pada abad 13.

Satu set atau satu bingkai wayang beber berisi 2 atau 3 adegan. Museum Wayang memiliki 17 set wayang beber dan hanya sebagian saja yang dipamerkan.

Tokoh tokoh cerita wayang beber antara lain Inu Kertapati atau Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji atau Galuh Candra Kirana.

Sementara itu Surya Atmadja, putra dalang wayang kulit Betawi, Mardjoeki Almarhum, juga mengakui tokoh Semar dan anak anaknya Gareng, Petruk dan Bagong tidak ada dalam pakem cerita Mahabarata.

“Itu asli karya Kanjeng Sunan Kalijaga. Semar artinya Sejatining Ma’rifat,” tuturnya.

Surya Atmadja yang lebih dikenal dengan panggilan Suhu Djadja ini menyatakan para punakawan tersebut adalah tokoh wayang yang terlahir dari paham Islam yang diciptakan Sunan Kalijaga.

Menurut Suhu Djadja selaku pemilik padepokan Toemaritis di Bekasi Utara ini, tokoh Semar menggambarkan seorang tokoh Tashawuf yang telah mampu mencapai tingkat ma’rifat. Yaitu seorang tokoh yang telah mampu mengenal dirinya dan mengenal dzatnya sendiri yaitu yang menjadi Tuhannya.

“Sesuai yang dikatakan dalam sebuah Hadits Nabi. Man arrofa nafsahu Faqod arrofa Robbahu. Siapa yang tidak mengenal dirinya maka tidak akan mengenal Tuhannya,” tutur Suhu Djadja.

Digambarkannya, tokoh Semar digunakan untuk pergelaran penyebaran agama Islam. Sebab Semar tidak takut dewa ataupun bethara. Yang dia takuti hanyalah Sang Hyang Tunggal, Tuhan Yang Maha Esa yaitu Allah Subhanahu wata’ala. (Sup/LKid).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lintas Terkini