oleh

Bentrok TKA dan Pribumi karyawan PT GNI, ini Komentar  SAdAP !

>

Bentrok TKA dan Pribumi karyawan PT GNI, ini Komentar  SAdAP !

Jakarta, Lintas Kompas-Kerusuhan yang terjadi di area PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) antara Tenaga kerja asing dengan Tenaga kerja pribumi membuat situasi di sekitar pabrik mencekam. Menurut Informasi yang berkembang, bahwa telah terjadi perkelahian yang berbuntut saling serang antara kedua kelompok. Bahkan sudah ada korban yang luka-luka akibat peristiwa kerusuhan tersebut.

Terkait dengan kejadian tersebut, Syarifuddin Daeng Punna tokoh masyarakat Sulsel di Jakarta yang juga selaku orang yang bergelut di dunia pertambangan nikel turut angkat bicara.

Menurut pria yang akrab disapa SAdAP ini bahwa peristiwa kerusuhan yang terjadi di kawasan pabrik antara TKA dengan Karyawan Pribumi bukan kali pertama ini terjadi di Indonesia. Sudah beberapa kali terjadi di daerah yang ada tenaga kerja asing disana. Dari rangkaian peristiwa, biasanya karena cekcok mulut lalu kemudian berkembang menjadi pertengkaran melibatkan kubu-kubuan.

Sebaiknya pihak penyuplai TKA melakukan evaluasi terhadap pekerja yang mereka datangkan, harus benar-benar selektif jika mau mendatangkan Tenaga kerja dari luar.

Seperti di Morowali lokasi kejadiannya ini, saya mendapatkan informasi bahwa tenaga kerja asal cina lebih banyak mendominasi sub-sub pekerjaan dan menjadikan karyawan pribumi sebagai pelayan. Entah hal ini benar atau tidak namun pada intinya TKA harus memahami kondisi geografis dan juga tradisi lokal. Jangan memaksakan kehendaknya untuk menerapkan aturan-aturan yang bertentangan dengan nilai adat istiadat yang ada di Morowali.

Seharusnya mereka sadar, kekayaan alam Indonesia dikelola oleh mereka dengan ketentuan berdasarkan Memory of Understanding (MOU). Ini pelajaran buat kita semua, terkhusus kepada Dinas Tenaga Kerja, lebih perketat lagi seleksi terhadap tenaga kerja asing yang akan di datangkan perusahaan.

Saya rasa ada regulasinya, dan dinas semestinya lebih protektif untuk memfollow up terkait TKA. Kalau bisa nanti seleksinya melibatkan tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah desa agar sebelum mereka dipekerjakan mereka telah memahami nilai-nilai kearifan lokal yang ada di tempat mereka akan bekerja tutup SAdAP.

Editor : H.Sakkar/Andi A Effendy

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lintas Terkini